Senin, 02 November 2015

#5 Sebuah Perkenalan di Dunia Maya


Alena menatapku dengan matanya yang bercahaya. Kedua tangan ia satukan untuk menopang dagu. Aku mengambil napas, kemudian mengembusnya perlahan. Teh yang sudah dingin segera kuteguk hingga habis.

Azan Asar berkumandang bersahut-sahutan dari satu menara ke manara lainnya. Lantunan yang indah, hati siapa pun yang mendengarnya tentu akan tersentuh karena keindahannya. Kami sama-sama diam hingga azan selesai.
“Sebuah perkenalan di dunia maya? Benarkan?” tanyanya seraya tersenyum menggoda.

Aku melemparkan pandangan pada selat biru di samping kanan kami. Membiarkan angin dingin dari Bosphorus membelai wajah. Ya, sebuah perkenalan yang kubuat sendiri. Perkenalan yang jauh sekali dari istilah ‘tidak disengaja’. Sejak pertama aku sendirilah yang membuat kisah cinta ini, jadi sekarang, aku juga yang bertanggung jawab untuk menyelesaikannya.
“Akan kulanjutkan nanti.” Aku beranjak, memungut tas, lalu segera memanggil pelayan untuk membayar bill.
Di tempatnya duduk, Alena masih tersenyum. Aku tidak tahu apa makna senyuman itu. Dia sedang menganggapku perempuan gila, kurang kerjaan, atau yang lain, sungguh aku tidak ingin tahu.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar