Kamis, 29 Oktober 2015

#1 Sebuah Pertemuan di Tepi Bosphorus


Aku tidak ingat berapa kali aku telah jatuh cinta pada seorang lelaki. Mungkin dua, mungkin tiga. Yang kutahu, meski tidak bisa dikatakan indah, cintaku kali ini berbeda dari yang lain. Cinta yang membawaku ke kota ini, ke negara ini. Cinta yang membuatku merasa begitu dekat dengan warna-warni bangunan tua yang ada di sekelilingku kini, dengan cahaya berkilauan yang jatuh pada birunya Bosphorus dan Marmara, dan pada kawanan gagak laut yang terbang rendah bersama suara klakson kapal-kapal yang merapat di pelabuhan.

Kedatanganku ke negara ini bukanlah untuk sebuah pembuktian cinta, melainkan hanya ingin melihat kenyataan tentang seseorang yang kucintai. Selain itu, aku juga datang untuk menunaikan sebuah cinta yang selama ini mekar begitu indah di dalam hati. Ya, aku telah jatuh cinta pada kota klasik ini sejak umurku 14 tahun, sejak cinta pada lelaki itu belum tumbuh di hatiku sedikit pun.

Sekarang aku sedang duduk di sudut sebuah cafe bernama Boon Restaurant and Cafe yang terletak di pinggir Golden Horn bagian Cingelkoy, Istanbul. Saat pertama kali aku mendorong pintunya, sudah bisa kupastikan bahwa restoran ini menjadi favorit para Turis mancanegara. Lihat saja di bagian kiriku, semua yang duduk di sana adalah orang-orang berparas Barat dengan bahasa Prancis. Lalu di depanku, ada sepasang muda-mudi yang asik bercengkerama dengan bahasa Inggris dengan si lelaki berlogat Turki, dan yang perempuan berlogat Cina. Aku menerka keduanya adalah sepasang kekasih yang menjalin hubungan jarak jauh. Lalu setelah sekian lama, mereka bertemu di cafe ini. Atau mungkin apabila aku salah, bisa saja wanita Cina itu memang sedang menempuh pendidikan atau bekerja di negara ini.


Angin dingin menusuk tulang masih berembus dari selat Bosphorus, padahal sekarang sudah masuk musim Semi. Aku merapatkan jaket, kemudian melirik layar ponsel. Suhu 13 dejarat celcius. Ah, ini masih tergolong sangat dingin bagi aku yang terbiasa hidup di wilayah tropis.

Seorang pelayan laki-laki berseragam hitam putih menghampiriku. Sebuah notes lengkap dengan pulpen ia genggam rapat-rapat. Ia hanya tersenyum setelah memberi ucapan selamat sore, lalu bersiap-siap untuk menuliskan pesananku.
“Cay dan buah yang disiram minyak zaitun.” Kataku. 
“Apa ada yang lain?” ia bertanya dalam bahasa Inggris. 
Aku menggeleng kecil, lalu berseru dengan sedikit bahasa Turki. “Yok. Itu sudah cukup.” 
“Evet. Pesanan Anda akan segera datang.” Katanya dengan senyuman ramah.
Tak ada kalimat apa-apa lagi dari bibirku selain sebuah senyuman kecil. Setelah pelayan itu pergi, mataku segera berputar menyaksikan lanskap Istanbul yang terlihat jelas dari tempatku duduk kini. Jembatan Bosphorus berada tepat di depan, mungkin berjarak tidak sampai satu kilometer. Meskipun Hagia Sophia dan Blue Mosque di kejauhan sana hanya tampak pucuk-pucuk kubah dan menaranya saja, yang kusaksikan kini tetaplah Istanbul. Sihir indahnya tidak pernah berkurang dilihat dari sisi mana pun.

Sebuah kapal pesiar melintas di tengah Selat, barangkali menuju Emononu dekat Old Town atau yang dikenal sebagai area Fetih. Deru mesin dan klakson kapal-kapal bersatu padu dengan suara ringkikan gagak laut yang terbang di segenap penjuru laut. Aku memejamkan mata, berharap ruh kota ini semakin merasuk lebih jauh ke dalam jiwa.

Di sinilah peradaban demi peradaban pernah berjaya. Di sini pula seorang panglima Islam yang telah membuatku terkesima berjuang dengan begitu menawan. Aku membayangkan seolah semuanya ada di depan mataku. Kapal-kapal kekhalifahan Ustmani yang mengarungi selat dengan layar-layar terkembang seumpama bukit yang menjulang ke langit, dan permadani-permadani aneka warna yang dijual di bawah atap melengkung. Bahkan dalam khayalan pun, semua itu terlihat indah.

Banyak orang yang pernah datang ke kota ini mengatakan jatuh cinta. Ada yang jatuh cinta pada orang-orangnya, pada panggilan shalat yang berpendar dari seribu masjidnya, pada sejarahnya, pada bangunan-bangunannya, dan pada laut yang mengelilinginya. Tidak sedikit pula yang mengatakan kota ini adalah kampung halaman mereka, meskipun baru berkunjung ke sini dua atau tiga kali saja. Demikian pula aku. Ini adalah kunjungan pertama, namun aku sudah merasa seperti di rumah sendiri. Bertahun-tahun lamanya aku bermimpi untuk menjejakkan kaki di kota ini, di negara ini, hingga akhirnya Allah mengabulkan impian tersebut.
“Hi. Ini pesanan Anda. Enjoy your meals.” Pelayan tadi datang lagi. Senyumnya merekah sambil menurunkan pesananku. 
“Tesekkur ederim.” Aku berucap lirih. Tanpa sebuah senyuman. 
Ia mengedipkan mata seraya menjawab, “Rica ederim.” Kemudian kembali berjalan menjauh.
Teh yang disajikan dalam gelas berbentuk tulip menarikku untuk segera menyeruputnya. Nikmat sekali bisa minum teh di tengah udara sedingin ini. Orang-orang di sekelilingku masih asik berbincang satu sama lain, terkadang terdengar tawa di antara mereka. Berbeda denganku, suhu seperti sekarang tentu sudah hangat bagi mereka, jadi kajet dan syal saja sudah cukup.
“Halo. May i sit here?” sapaan ini membuat aku menengadah seketika.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar