Sabtu, 31 Oktober 2015

#3 Apakah Hubunganku dengan Pria Turki ini Bisa Dilanjutkan?


Aku menunduk semakin dalam. Jari-jariku sedang memegang potongan kiwi, tapi tidak berniat untuk memakannya. Perkenalan? Sebuah perkenalan yang tidak istimewa. Bahkan mungkin menurut kebanyakan orang, perkenalan ini akibat ulahku sendiri. Jadi nanti, bila aku menerima kenyataan pahit, aku tidak pernah punya alasan untuk menyalahkan siapa pun. Karena aku sendirilah yang mencari-cari jurang agar orang lain bisa mendorongku jatuh ke dalamnya menemui kematian.

***

Januari 2011

Hari ini Bogor, kota tempatku berkuliah, sedang basah kuyup akibat hujan yang tak kunjung reda sejak pagi hari. Di sini, meskipun orang-orang memberi julukan sebagai Kota Hujan, tetapi hujan jarang turun di waktu pagi. Tapi aku bukan ahli cuaca. Aku tidak tahu mengapa sejak satu minggu terakhir, hujan terus turun seperti tidak mau berhenti sepanjang hari.

Aku sedang tidur-tiduran malas di atas tempat tidur setelah hampir enam jam belajar di kampus. Tanganku menggapai-gapai ponsel yang tadi kuletakkan di atas meja, sambil memicingkan mata kulihat waktu yang tertera di sana. Pukul 14.58. Itu artinya aku harus mengurungkan niat tidur karena azan Asar akan segera berkumandang dari Masjid di samping kosan.

Di luar kamar, samar-samar terdengar suara televisi yang tengah menayangkan berita mengenai situasi siaga di beberapa bendungan. Ah, sepertinya Jakarta akan banjir lagi tahun ini dan sudah pasti kalimat ‘Hujan kiriman dari Bogor’ akan segera ramai dibicarakan.

Berita tersebut segera kulupakan. Dengan malas, aku memaksakan bangun, lalu menarik laptop dari atas meja. Menulis sesuatu untuk blog kurasa akan mengasyikkan. Setelah software dalam keadaan ready, aku segera mencolokkan modem kesayangan, menghubungkan ke internet, dan tidak berapa lama halaman beranda firefox sudah tampil di layar.  

Sudah jadi kebiasaan, tiap kali tersambung ke internet aku tidak langsung melakukan aktifitas lain sebelum mengecek email. Dan hari ini, aku juga tidak ingin mengubah rutinitas tersebut. Di antara belasan email yang kebanyakan adalah komentar untuk salah satu blog post, ada sebuah email berbeda. Dari subjek dan pengirimnya aku tahu kalau email tersebut bukan notifikasi dari akun-akunku yang lain. Email ini ditulis khusus untuk alamat email yang sedang kubuka sekarang.

Penasaran dengan isinya, segera saja jemariku meng-klik email tersebut.

Salam, Mbak Elsa

Perkenalkan namaku Hani Ramadhani dari Depok. Setelah membaca beberapa postingan Mbak Elsa di blog, saya tertarik untuk bercerita sekaligus bertanya pada Mbak. Begini, dua bulan lalu saya berkenalan dengan seorang pria Turki yang tinggal di Istanbul. Kami berkenalan lewat website jodoh Muslima.com. Setelah saling bertukar pesan, akhirnya aku bersedia memberikan alamat facebook dan pin Blackberry Messenger. Kami pun rajin berkomunikasi lewat kedua fasilitas online tersebut.

Kami sudah sering bertatap wajah melalui webcam facebook, dan di sana saya bisa tahu kalau dia pria yang tampan. Dia mengaku memiliki sebuah perusahaan karpet di daerah Izmir. Satu bulan lalu dia mengatakan cinta dan mengajak saya untuk menikah. Tapi dia meminta agar saya terlebih dahulu datang ke Istanbul agar kami bisa bertemu. Bagaimana menurut Mbak Elsa? Apakah pria ini serius? Kalau boleh tahu seperti apakah tipikal sifat pria Turki itu secara umum?
Saya sangat senang bila Mbak Elsa mau membalas. Saya ucapkan terimakasih. Semoga Mbak Elsa selalu berada dalam lindungan Allah swt.

Salam

Hani

Aku melenguh panjang. Ini adalah email ke sekian yang menyangka aku tinggal di Turki atau aku adalah wanita yang bersuamikan pria Turki. Padahal tidak ada satu pun tulisanku di blog yang pernah menyatakan seperti itu. Aku memang sering menulis fiksi yang berlatar Istanbul, juga beberapa tulisan populer mengenai Turki. Tapi itu bukan berarti aku tinggal di sana, terlebih menikah dengan pria sana. Semua itu kutulis tidak lain karena aku sangat mencintai negaranya Erdogan itu, khususnya kota klasik Istanbul.

Pertama kali aku mengenal Turki tepat saat aku masih duduk di bangku kelas 2 Madrasah Aliyah. Ketika itu Kedutaan Turki di Indonesia sedang mengadakan pameran benda-benda replika dari Museum Topkapi di salah satu gedung di kota tempatku belajar. Aku dan satu rombongan dari sekolah datang ke pameran tersebut bersama beberapa guru. Di sana aku menyaksikan pedang Muhammad Al Fatih, jubah Rasulullah, telapak kaki, dan sebagainya. Benda-benda tersebut sebenarnya tidak begitu membekas di memoriku, namun sejak hari itu aku dibuat penasaran pada negara bernama Turki.

Selanjutnya, secara tidak sengaja aku membaca sebuah novel yang sudah tidak kuingat judulnya. Novel itu adalah pinjaman dari seorang teman. Ia bilang ceritanya mengharukan hingga aku tertarik untuk membaca. Namun, karena aku juga hapal dengan beberapa film India, aku jadi tahu kalau cerita dalam novel tersebut adalah hasil modifikasi dari film India berjudul Kal Ho Na Ho yang diperankan oleh Sharukh Khan. Jadi non sense. Meskipun begitu, hingga kini aku sangat berterima kasih pada novel tersebut. Dari novel itulah awal perkenalanku pada seorang panglima Islam yang dikatakan Rasulullah saw sebagai panglima terbaik, yaitu Muhammad Al Fatih. Dalam novel diceritakan secara singkat mengenai peristiwa sejarah penaklukan Kosntatinopel yang dilakukan Al Fatih. 

Aku terkesima.

Di lain kesempatan, mungkin beberapa bulan setelah aku mengenal Al Fatih, aku menemukan buku bacaan yang lain. Lagi-lagi aku tidak ingat judulnya. Dalam buku tersebut diceritakan secara singkat tentang akhir keruntuhan kekhalifahan Ustmani oleh Mustafa Kemal yang beraliran sekuler. Buku tersebut juga menceritakan akhir hidup sultan Abdul Hamid II yang terus berjuang mempertahankan khilafah. Namun peradaban Ottoman yang berjaya selama kurang lebih 624 tahun memang sudah ditakdirkan untuk runtuh. Abdul Hamid II tida berdaya. 

Ia bagaikan berjalan di atap bangunan yang rapuh, sementara di bawah sana tombak-tombak tertancap menantinya jatuh. Ketika itu khalifah Ustmaniah memang sudah terpuruk dan mustahil bisa diselamatkan lagi. Meskipun Sultan adalah orang yang tegas membela Islam, namun ia dikelilingi oleh orang-orang munafik yang sebagian adalah utusan Yahudi. Sejarah mencatat, sultan Abdul Hamid II beserta keluarga berakhir di dalam tahanan di Austria. Khalifah selanjutnya diangkat menggantikan Abdul Hamid, hanya saja ia tidak punya kekuatan sama sekali. Pengangkatan tersebut tidak lebih dari sebuah formalitas dan khalifah itu hanya dijadikan boneka kaum sekuler. Hingga kemudian khalifah Ustmaniyah resmi gulung tikar lalu berganti menjadi Republik. Bacaan-bacaan itulah yang menjadi pengantarku untuk mengenal Turki lebih jauh.

Tamat dari Madrasah Aliyah, aku melanjutkan pendidikan tinggi di kota Bogor. Semakin ke sini akses internet semakin mudah bersamaan dengan maraknya telepon genggam canggih. Berkat itu aku bisa dengan mudah mengakses segala informasi mengenai Turki dan sejarahnya.

Masjid biru, Hagia Sophia, Museum Topkapi, Masjid Sulaiman, Bosphorus, Jembatan Galata, Jembatan Bosphorus, Selat Ujung Tanduk, Selat Marmara, Jalan Istiklal, Taksim Square, Grand Bazaar, kebab, balik ekmek, pilav, cay, kopi Turki, baklava, pardesu, semua itu membuatku semakin terpesona pada negara di perbatasan Asia dan Eropa itu. Dan foto-foto di internet, begitu pula tulisan-tulisan mereka yang pernah berkunjung ke sana, semuanya menambah rasa cintaku.


Karena itulah, dalam banyak tulisan, aku selalu memasukkan Turki di dalamnya. Lalu tulisan-tulisan tersebut mengundang misunderstanding para pembaca mengenai aku. Sudah hampir dua puluh email salah sangka pernah kuterima. Beberapa orang memintaku menjadi tour guide saat mereka datang ke Turki untuk berlibur, beberapa menanyakan seputar pendidikan di Turki, dan beberapa lagi menceritakan kisah asmara dan berujung pertanyaan seperti yang kutuliskan di atas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar