Sabtu, 31 Oktober 2015

#2 Seorang Wanita Bosnia Bernama Alena Izetbekovic

“Halo. May I sit here?” sapaan ini membuat aku menengadah seketika.
Seorang gadis bertubuh jangkung telah tersenyum sangat lebar untukku. Tubuhnya terbalut overcoat berwarna biru donker dengan syal tebal berwarna merah muda melilit lehernya. Wajahnya yang manis terlihat kecil dan balutan hijab tebal berwarna tosca.

Aku tersenyum, menunjuk kursi sebagai isyarat bahwa ia boleh duduk di sana.
“Kakiku masih sakit. Tadi aku terpleset karena salju yang masih menumpuk di sisi-sisi jalan. Padahal sudah pakai sepatu musim dingin terbaik yang kupunya.” Tanpa basa-basi ia langsung saja bercerita. Tangannya sibuk memukul kecil kakinya yang terbungkus boot kulit tinggi mencapai lutut. 
“Siapa namamu?” tanyaku tidak tertarik untuk menimpali ceritanya. 
“Oh,” ia seperti baru sadar bahwa kami belum berkenalan. Tangannya yang terbungkus kaos berwarna merah muda dijulurkan, “I am Alena Izetbekovic from Bosnia  and Herzegovina. Tepatnya aku tinggal di Sarajevo. Lain kali kau wajib datang ke sana.” Ia langsung memperkenalkan diri panjang. “Dan kamu?” 
“Aku Elsa Zhanzabila from Indonesia.” Kataku. 
“Just it is?”
Aku mengernyit, memahami pertanyaannya. Dan oh, mungkin dia ingin sebuah perkenalan lengkap seperti yang sudah ia ucapkan sebelumnya. Mau tidak mau aku kembali memperkenalkan diri, “I am Elsa Zhanzabila from Indonesia. Tepatnya aku tinggal di pulau Bintan, sekitar 2 jam dari Singapura via ferry. Jika kau ingin melihat banyak pulau dan pantai yang indah, lain kali kau wajib datang ke sana.”
“Okay it’s perfect. Halo Elsa. Nice to meet you.”
Sesaat aku dibuat terheran-heran pada keramahan perempuan ini. Dalam hati aku sudah menyangka yang tidak-tidak. Bagaimana kalau dia ini seorang scam city? Kudengar banyak scam city yang berkeliaran di Istanbul. biasanya mereka akan mengincar turis dengan trik mengajak berkenalan.
“Halo.” Balasku pendek.
Alena segera melambaikan tangan pada seorang pelayan. Secangkir kopi Turki dan special baklava menjadi pilihannya. Ia kemudian menyandarkan tubuhnya ke kursi, tangan bersedekap, dan menatap ke arahku seolah ia sedang berpikir keras mengenai suatu hal. Meskipun sedang menunduk sambil memainkan gelas teh, aku tetap bisa merasakan kalau sedang diperhatikan.
“Selama aku hidup, kaulah satu-satunya orang Indonesia yang sangat tidak ramah yang pernah kutemui.” Ucapnya. 
“Sorry?” aku mengkonfirmasi apa yang barusan ia ucapkan. 
“Iya. Kau tidak ramah.” Katanya lagi seraya menganggukkan kepala. 
“Ayo, ceritakan padaku. Apa tujuanmu datang ke Istanbul? Kuperhatikan kau sedang dilanda masalah besar lalu melarikan diri ke sini. Berharap mendapatkan ketenangan. Benarkah?”
Aku tersenyum kecil. “Kau salah, Alena. Kedatanganku ke mari bukan untuk lari dari apa pun. Aku akan berkunjung ke suatu tempat di negara ini untuk sebuah alasan.”
“Ya, aku juga datang ke Istanbul karena suatu alasan. Make it clear, Elsa. Apa alasanmu? Hmm...” Ia berpikir sejenak. “Cinta? Benarkah? Kurasa itu.”
Ah, kuakui wanita ini memang pandai. Entah itu Alena memang pandai mengamati orang lain atau ia hanya menerka, yang jelas apa yang ia katakan memang benar. Kuanggukkan kepala tanpa semangat, menunduk, melihat gelas teh.

Senyum lebar Alena merekah bersamaan dengan wajah tidak percayanya. “Oh, really? Kalau begitu biarkan aku ikut bersamamu.” Ia berkata seolah tanpa beban.
Tawaran Alena hanya kusahut dengan sebuah ejekan, “Kau gila.”

Ia tertawa kecil dan baru berhenti ketika pelayan menyajikan menu yang sudah ia pesan. Setelah menyeruput kopi, ia kembali bicara, “Serius, Elsa. Biarkan aku ikut denganmu.”
“Tidak ada yang bisa menjamin kau tidak akan merepotkanku. Lagipula kita baru saja berkenalan. Siapa tahu kau seorang buronan internasional. Aku tidak mau dapat masalah hanya karena menerima permintaanmu itu.” Ucapku sungguh-sungguh.
Sepertinya Alena tidak main-main dengan ucapannya. Ia merogoh tas kulit berwarna hitam yang sejak tadi ia dudukkan di bawah kakinya. Tak berapa lama, ia sudah menggenggam sebuah dompet lalu mengeluarkan semua kartu yang menurutnya pantas untuk diperlihatkan. Kartu kependudukan, surat ijin mengemudi, paspor, empat buah ATM, dan dua buah kartu kredit, kini sudah berjejer di atas meja.
“Kalau masih belum cukup juga, aku akan menunjukkan blog pribadiku agar kau percaya. Blog itu cukup terkenal di Bosnia sana. Dan aku juga perempuan bersih, sedikit pun tidak ada masalah dengan polisi. Setelah melihat keadaanmu dan mendengar tujuanmu datang ke negara ini, tiba-tiba aku tertarik untuk menyaksikan apa yang akan terjadi. Apakah kalian akan punya sebuah happy ending? Percayalah, aku tidak akan menyusahkanmu. Aku juga punya uang untuk membayar ongkosku sendiri. Dan... uhm, aku juga sedang butuh sebuah kesibukan saat ini. Okay, are we deal?” katanya sambil memungut kembali semua kartu yang sudah ia tunjukkan.
“Baiklah. Dan jangan pernah menyusahkanku. Jika kau mati di tengah perjalanan, jangan pernah berharap aku akan mengurus jenazahmu.” 
Matanya membelalak. Namun kemudian ia tertawa, “Ucapanmu ngeri sekali. Kurasa kamu tidak punya banyak teman di dunia ini.” 
“Jangan sok tahu.” Kataku lirih. 
“Baik-baik.” Alena mengangkat kedua tangannya. “Kalau begitu, sekarang ceritakanlah. Bagaimana kau bisa berkenalan dengan lelaki itu?”
Aku menunduk semakin dalam. Jari-jariku sedang memegang potongan kiwi, tapi tidak berniat untuk memakannya. Perkenalan? Sebuah perkenalan yang tidak istimewa. Bahkan mungkin menurut kebanyakan orang, perkenalan ini akibat ulahku sendiri. Jadi nanti, bila aku menerima kenyataan pahit, aku tidak pernah punya alasan untuk menyalahkan siapa pun. Karena aku sendirilah yang mencari-cari jurang agar orang lain bisa mendorongku jatuh ke dalamnya menemui kematian.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar