Rabu, 18 November 2015

Tahapan Pernikahan dengan Pria Turki di Indonesia

Tahapan pernikahan dengan pria Turki
File-file dibawah ini yang harus dibawa dari Turki oleh pengantin pria

  1. Kartu keluarga
  2. Evlenme Ehliyet Belgesi (Surat Keterangan untuk menikah) berlaku 6 bulan. Mintanya di Nüfus müdürlüğü tempat calon suami tinggal.
  3. KTP
  4. Paspot
  5. Pas photo

Senin, 02 November 2015

#5 Sebuah Perkenalan di Dunia Maya


Alena menatapku dengan matanya yang bercahaya. Kedua tangan ia satukan untuk menopang dagu. Aku mengambil napas, kemudian mengembusnya perlahan. Teh yang sudah dingin segera kuteguk hingga habis.

Azan Asar berkumandang bersahut-sahutan dari satu menara ke manara lainnya. Lantunan yang indah, hati siapa pun yang mendengarnya tentu akan tersentuh karena keindahannya. Kami sama-sama diam hingga azan selesai.
“Sebuah perkenalan di dunia maya? Benarkan?” tanyanya seraya tersenyum menggoda.

Minggu, 01 November 2015

#4 Tipikal Pria Turki secara Umum


Aku mengambil bantal, kemudian menyandarkannya ke dinding sebagai alas sandaran. Hujan di luar masih belum reda. Suaranya yang gemericik mampu kudengar, meski tidak begitu jelas.

Tipikal pria Turki?

Baru kali ini aku mendapatkan pertanyaan seperti ini. Biasanya mereka hanya meminta pendapat mengenai hubungan mereka. Dan sekarang aku benar-benar buta informasi tentang pria Turki. Satu-satunya referensi yang bisa kuharapkan adalah internet. Aku berharap ada orang yang berbaik hati telah menulis tentang hal tersebut.

Sabtu, 31 Oktober 2015

#3 Apakah Hubunganku dengan Pria Turki ini Bisa Dilanjutkan?


Aku menunduk semakin dalam. Jari-jariku sedang memegang potongan kiwi, tapi tidak berniat untuk memakannya. Perkenalan? Sebuah perkenalan yang tidak istimewa. Bahkan mungkin menurut kebanyakan orang, perkenalan ini akibat ulahku sendiri. Jadi nanti, bila aku menerima kenyataan pahit, aku tidak pernah punya alasan untuk menyalahkan siapa pun. Karena aku sendirilah yang mencari-cari jurang agar orang lain bisa mendorongku jatuh ke dalamnya menemui kematian.

#2 Seorang Wanita Bosnia Bernama Alena Izetbekovic

“Halo. May I sit here?” sapaan ini membuat aku menengadah seketika.
Seorang gadis bertubuh jangkung telah tersenyum sangat lebar untukku. Tubuhnya terbalut overcoat berwarna biru donker dengan syal tebal berwarna merah muda melilit lehernya. Wajahnya yang manis terlihat kecil dan balutan hijab tebal berwarna tosca.

Aku tersenyum, menunjuk kursi sebagai isyarat bahwa ia boleh duduk di sana.
“Kakiku masih sakit. Tadi aku terpleset karena salju yang masih menumpuk di sisi-sisi jalan. Padahal sudah pakai sepatu musim dingin terbaik yang kupunya.” Tanpa basa-basi ia langsung saja bercerita. Tangannya sibuk memukul kecil kakinya yang terbungkus boot kulit tinggi mencapai lutut. 
“Siapa namamu?” tanyaku tidak tertarik untuk menimpali ceritanya. 
“Oh,” ia seperti baru sadar bahwa kami belum berkenalan. Tangannya yang terbungkus kaos berwarna merah muda dijulurkan, “I am Alena Izetbekovic from Bosnia  and Herzegovina. Tepatnya aku tinggal di Sarajevo. Lain kali kau wajib datang ke sana.” Ia langsung memperkenalkan diri panjang. “Dan kamu?” 
“Aku Elsa Zhanzabila from Indonesia.” Kataku. 
“Just it is?”
Aku mengernyit, memahami pertanyaannya. Dan oh, mungkin dia ingin sebuah perkenalan lengkap seperti yang sudah ia ucapkan sebelumnya. Mau tidak mau aku kembali memperkenalkan diri, “I am Elsa Zhanzabila from Indonesia. Tepatnya aku tinggal di pulau Bintan, sekitar 2 jam dari Singapura via ferry. Jika kau ingin melihat banyak pulau dan pantai yang indah, lain kali kau wajib datang ke sana.”
“Okay it’s perfect. Halo Elsa. Nice to meet you.”
Sesaat aku dibuat terheran-heran pada keramahan perempuan ini. Dalam hati aku sudah menyangka yang tidak-tidak. Bagaimana kalau dia ini seorang scam city? Kudengar banyak scam city yang berkeliaran di Istanbul. biasanya mereka akan mengincar turis dengan trik mengajak berkenalan.
“Halo.” Balasku pendek.
Alena segera melambaikan tangan pada seorang pelayan. Secangkir kopi Turki dan special baklava menjadi pilihannya. Ia kemudian menyandarkan tubuhnya ke kursi, tangan bersedekap, dan menatap ke arahku seolah ia sedang berpikir keras mengenai suatu hal. Meskipun sedang menunduk sambil memainkan gelas teh, aku tetap bisa merasakan kalau sedang diperhatikan.
“Selama aku hidup, kaulah satu-satunya orang Indonesia yang sangat tidak ramah yang pernah kutemui.” Ucapnya. 
“Sorry?” aku mengkonfirmasi apa yang barusan ia ucapkan. 
“Iya. Kau tidak ramah.” Katanya lagi seraya menganggukkan kepala. 
“Ayo, ceritakan padaku. Apa tujuanmu datang ke Istanbul? Kuperhatikan kau sedang dilanda masalah besar lalu melarikan diri ke sini. Berharap mendapatkan ketenangan. Benarkah?”
Aku tersenyum kecil. “Kau salah, Alena. Kedatanganku ke mari bukan untuk lari dari apa pun. Aku akan berkunjung ke suatu tempat di negara ini untuk sebuah alasan.”
“Ya, aku juga datang ke Istanbul karena suatu alasan. Make it clear, Elsa. Apa alasanmu? Hmm...” Ia berpikir sejenak. “Cinta? Benarkah? Kurasa itu.”
Ah, kuakui wanita ini memang pandai. Entah itu Alena memang pandai mengamati orang lain atau ia hanya menerka, yang jelas apa yang ia katakan memang benar. Kuanggukkan kepala tanpa semangat, menunduk, melihat gelas teh.

Senyum lebar Alena merekah bersamaan dengan wajah tidak percayanya. “Oh, really? Kalau begitu biarkan aku ikut bersamamu.” Ia berkata seolah tanpa beban.
Tawaran Alena hanya kusahut dengan sebuah ejekan, “Kau gila.”

Ia tertawa kecil dan baru berhenti ketika pelayan menyajikan menu yang sudah ia pesan. Setelah menyeruput kopi, ia kembali bicara, “Serius, Elsa. Biarkan aku ikut denganmu.”
“Tidak ada yang bisa menjamin kau tidak akan merepotkanku. Lagipula kita baru saja berkenalan. Siapa tahu kau seorang buronan internasional. Aku tidak mau dapat masalah hanya karena menerima permintaanmu itu.” Ucapku sungguh-sungguh.
Sepertinya Alena tidak main-main dengan ucapannya. Ia merogoh tas kulit berwarna hitam yang sejak tadi ia dudukkan di bawah kakinya. Tak berapa lama, ia sudah menggenggam sebuah dompet lalu mengeluarkan semua kartu yang menurutnya pantas untuk diperlihatkan. Kartu kependudukan, surat ijin mengemudi, paspor, empat buah ATM, dan dua buah kartu kredit, kini sudah berjejer di atas meja.
“Kalau masih belum cukup juga, aku akan menunjukkan blog pribadiku agar kau percaya. Blog itu cukup terkenal di Bosnia sana. Dan aku juga perempuan bersih, sedikit pun tidak ada masalah dengan polisi. Setelah melihat keadaanmu dan mendengar tujuanmu datang ke negara ini, tiba-tiba aku tertarik untuk menyaksikan apa yang akan terjadi. Apakah kalian akan punya sebuah happy ending? Percayalah, aku tidak akan menyusahkanmu. Aku juga punya uang untuk membayar ongkosku sendiri. Dan... uhm, aku juga sedang butuh sebuah kesibukan saat ini. Okay, are we deal?” katanya sambil memungut kembali semua kartu yang sudah ia tunjukkan.
“Baiklah. Dan jangan pernah menyusahkanku. Jika kau mati di tengah perjalanan, jangan pernah berharap aku akan mengurus jenazahmu.” 
Matanya membelalak. Namun kemudian ia tertawa, “Ucapanmu ngeri sekali. Kurasa kamu tidak punya banyak teman di dunia ini.” 
“Jangan sok tahu.” Kataku lirih. 
“Baik-baik.” Alena mengangkat kedua tangannya. “Kalau begitu, sekarang ceritakanlah. Bagaimana kau bisa berkenalan dengan lelaki itu?”
Aku menunduk semakin dalam. Jari-jariku sedang memegang potongan kiwi, tapi tidak berniat untuk memakannya. Perkenalan? Sebuah perkenalan yang tidak istimewa. Bahkan mungkin menurut kebanyakan orang, perkenalan ini akibat ulahku sendiri. Jadi nanti, bila aku menerima kenyataan pahit, aku tidak pernah punya alasan untuk menyalahkan siapa pun. Karena aku sendirilah yang mencari-cari jurang agar orang lain bisa mendorongku jatuh ke dalamnya menemui kematian.


Kamis, 29 Oktober 2015

#1 Sebuah Pertemuan di Tepi Bosphorus


Aku tidak ingat berapa kali aku telah jatuh cinta pada seorang lelaki. Mungkin dua, mungkin tiga. Yang kutahu, meski tidak bisa dikatakan indah, cintaku kali ini berbeda dari yang lain. Cinta yang membawaku ke kota ini, ke negara ini. Cinta yang membuatku merasa begitu dekat dengan warna-warni bangunan tua yang ada di sekelilingku kini, dengan cahaya berkilauan yang jatuh pada birunya Bosphorus dan Marmara, dan pada kawanan gagak laut yang terbang rendah bersama suara klakson kapal-kapal yang merapat di pelabuhan.